Kemenkopolhukam Tinjau Kebun dan Pabrik Kratom di Kapuas Hulu


Asisten Deputi 1/V Kamtibmas Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam), Brigjen TNI Gamal Haryo Putro tiba di bandara Pangsuma Putussibau, kabupaten Kapuas Hulu, provinsi Kalimantan Barat, Selasa (13/8). Setibanya dibandara, Asdep Kamtibmas Kemekopolhukam langsung menuju lokasi pabrik kratom yang ada di kecamatan Kalis, kemudian dilanjutkan dengan peninjauan kebun milik warga di desa Sambus, Kecamatan Putussibau Utara. Kunjungan Asdep 1 Kemekopolhukam RI dan beberapa staffnya ke lokasi pabrik dan kebun kratom tersebut turut didampingi Bupati Kapuas Hulu, A.M Nasir, S.H, Wabup, Antonius L Ain Pamero, S.H, Ketua DPRD Kapuas Hulu, Rajuliansyah, S.Pd.I, Dandim 1206/Psb, Letkol Inf Basyarudin, Sekda Kapuas Hulu, H. Sarbani, M.A.P serta beberapa kepala OPD di lingkungan Pemda Kapuas Hulu.

Bupati Kapuas Hulu, AM Nasir, menuturkan kunjungan Asdep 1 dari Kemenkopolhukam adalah tindak lanjut dari pertemuan Pemda Kapuas Hulu dengan Kemenkopolhukam pada tanggal 8 Agustus 2019 lalu, di Jakarta. Pertemuan itu membahas tentang kratom atau daun purik. “Ini kaitannya dengan daun purik atau kratom. Kemarin Pemda Kapuas Hulu sudah beberapa kali pertemuan dengan Pemerintah Pusat membahas kratom termasuk Kemenkopolhukam, jadi ini tindak lanjutnya, beliau datang untuk liat fakta lapangan yang sudah kami sampaikan di Kementerian,” ucap Bupati saat mendapingi Asdep 1 Kemenpolhukam bertemu masyarakat petani kratom di Sambus.

Kratom ada di beberapa kabupaten di Kalimantan Barat, namun kata Bupati, Kabupaten Kapuas Hulu adalah produsen yang punya kualitas kratom paling baik dan paling banyak ekspor juga. Kratom menjadi solusi dari anjloknya harga karet, yang dulunya komoditi andalan warga. “Kratom sebenarnya sudah 20 tahun digarap warga disini, hanya sekarang jadi lebih marak,” ujar Bupati. Terakhir ini, kata Bupati, memang ada hasil riset kratom dari Badan Narkotika Nasional (BNN). Kratom ternyata punya kandungan narkotika, yangkekuatannya bisa 10 kali lipat dari heroin. “Ini juga buat masyarakat galau. Kami berusaha cari solusi.
Kita cari rumusan yang bagus. Ini sudah dilarang walau belum sepenuhnya,” tutur Bupati.

Asdep 1/v Kamtibmas Kemenkopolhukam Brigjen TNI mengatakan, dirinya datang untuk melihat langsung perkebunan kratom serta pabriknya. Hasil tinjauan ini akan disampaikan ke Menkopolhukam. “insyallah, apa yang kami lakukan ini untuk kemasalahatan masyarakat. Saya tahu ini hal penting bagi masyarakat tapi ada hal lain yang harus dipertimbangkan,” tegasnya.
Brigjen TNI Gamal memaparkan, pada tanggal 8 Agustus 2019 lalu ada rapat di Kemenkopolhukam. Pada saat rapat itu Kepala Pusat Laboratorium BNN RI menyatakan bahwa ada kandungan narkotika pada kratom, yang dalam jumlah tertentu bisa merusak kesehatan. “Saat uji pada tikus-tikus juga terpantau ada pembesaran limpa dan hati, ini berbahaya. Apalagi saat proses produksi itu saya lihat ada debu-debu yang masyarakat hirup, impeknya itu dikhawatirkan terjadi kedepannya. Masyarakat harus tahu memproduksi kratom seperti ini merusak kesehatan,” tegasnya.

Namun disisi lain, kratom adalah mata pencaharian utama masyarakat di Kapuas Hulu. Hal ini, kata Brigjen TNI Gamal, harus juga dipahami bersama oleh pemangku kebijakan. “Jadi apa yang saya dapat dilapangan akan dilaporkan ke pimpinan, sesuai dengan apa adanya,” ujar pria yang berlatar belakang Intelejen ini. Saat ini, lanjut Brigjen TNI Gamal, Kementerian Kesehatan RI telah membentuk komite. Komite itu membuat rekomendasi untuk pemakluman sementara waktu, hingga ada mata pencaharian pengganti lainnya. “Brunei, Malaysia dan beberapa negara sudah melarang kratom, kita masih mengurusnya. Untuk itu masyarakat harus mulai mengganti kratom ini,” tuntasnya. (yohanes)

Share Post: