Berbicara 'Hena' tentu masyarakat sekalian akan teringat dengan kesenian ukir tangan atau Mahendi yang banyak di lakukan masyarakat India atau Arab Saudi. Kesenian Hena Mahendi ini sudah menjadi trend (membudaya) di Indonesia, termasuk di Daerah terujung seperti Kabupaten Kapuas Hulu.
Hena Mahendi juga di geluti seorang warga Putussibau, yakni Neti. Sejak Tahun 2012 perempuan berhijab ini menekuni Hena Mahendi secara autodidak (belajar sendiri), hingga menjadi usaha. "Karena kesenangan saya coba peluang usahanya juga" kata Neti, Minggu 07 Mei 2017.
Pendiri Balqis Hena ini menjelaskan, Hena Mahendi yang ia geluti ada dua metode, untuk wedding (pernikahan) dengan sekedar fun (senang-senang). Dua metode ini beda motif dan beda moment.
Kalau untuk wedding, waktu pengerjaan lebih lama, bisa sampai 3 jam. Sebab di buat di bagian kaki, tangan dan telapak tangannya. Kalau untuk bahan hena tersebut ada yang herbal dan yang instan.
"Bahan yang instan 5 menit sudah muncul, kalau herbal 3 hari baru muncul. Ketahanan hena itu sendiri berkisar 3 sampai 7 hari, bisa juga sampai 2 minggu" papar Neti.
Selama ini, warga di beberapa Kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu sudah menggunakan jasa hena mahendi milik Neti. Di antaranya Embaloh Hilir, Silat Hilir dan Batang Lupar.
"Masyarakat di Kecamatan biasanya minta untuk pernikahan. Kisaran harga dari saya antara 200 ribu sampai 550 ribu, tergantung motif. Kalau luar kota tetap ada biaya transport lagi" tuntas Neti.