
Bukit Tilung di perhuluan sungai Manday adalah objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan dari Malaysia. Bukit ini memiliki historis yang sangat menarik, sebab dianggap sebagai 'Negeri Kayangan'-nya masyarakat suku Dayak. Warga Dusun Nanga Arung, Desa Nanga Raun, Kecamatan Kalis, Nuhan, mengatakan, Desanya setiap tahun didatangi warga Malaysia. "Mereka datang untuk mendaki bukit Tilung," papar Warga Dusun Nanga Arung, Nuhan, Selasa 03 Oktober 2017.
Dari Nanga Arung, Warga Dusun Nanga Arung, Nuhan mengatakan, pengunjung berjalan kaki sekitar satu hingga dua jam untuk sampai ke bukit Tilung. "Wisatawan dari Malaysia itu datang biasa semalam dua malam tinggal di sekitar bukit itu," ujar Warga Dusun Nanga Arung, Nuhan. Dari kunjugan tersebut, Warga Dusun Nanga Arung, Nuhan mengaku pernah bertanya terkait alasan kunjungan warga Malaysia ke bukit Tilung. Kebanyakan wisatawan tersebut beralasan terkait legenda bukit Tilung sebagai alam nirwana para arwah masyarakat suku Dayak. "Kalau di Kapuas Hulu masyarakat Dayak rata-rata sudah tahu tentang alasan ini," tutur Warga Dusun Nanga Arung, Nuhan.
Terkait 'Negeri Kayangan’ di Bukit Tilung, Warga Dusun Nanga Arung, Nuhan juga mengatakan, ada beberapa lokasi yang menjadi pemberhentian arwah masyarakat Dayak, yang hendak naik ke bukit Tilung tersebut. Pertama lokasi 'Kensurai Patek Leo', yaitu dua pohon yang bertemu di tengah sungai Mandai, seperti jembatan. "Dilokasi pertama ini diketahui arwannya menyeberang sungai dengan perbekalan menuju bukit Tilung," kisah Warga Dusun Nanga Arung, Nuhan. Lokasi kedua air terjun Tilung, dimana tempat para arwah mandi. Selanjutnya ada batu sino atau batu cermin. "Batu cermin ini yang dikisahkan membuat para arwah itu sadar bahwa mereka sebetulnya sudah meninggal dunia. Fisik berubah, bukan lagi daging tapi arwah, dari itu mereka kemudian menetap di bukit Tilung tersebut," papar Warga Dusun Nanga Arung, Nuhan. (Doc. Bidang SAI-DKIS)